Isnin, 9 April 2018

Jim Caviezel - Pengalamanku Berlakon Sebagai Yesus

Jim Caviezel berlakon sebagai Yesus dalam filem arahan Mel Gibson

Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang dipilih oleh Mel Gibson untuk melakonkan watak “Yesus” dalam filem “The Passion of the Christ”. Selama proses pembuatan filem itu banyak hal yang dialami oleh Jim, berikut adalah kesaksian dari mulutnya sendiri:

Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan risiko tersebut. Umumnya aktor yang melakonkan watak Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam filem-filem lain. Ditambah kemungkinan filem ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bidang perfileman di Hollywood. Kemungkinan tamat karir saya dalam dunia perfileman. Dalam menanti keputusan saya apakah jadi berlakon dalam film itu, saya berkata kepada pengarah filem Mel Gibson, “Mel, apakah engkau memilihku kerana huruf depan namaku juga sama dengan Jesus Christ (JC/ Jim Caviezel)? Kemudian umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus ketika Ia disalibkan?” Mel menggeleng setengah terperanjat, terkejut, menurutnya ini kebetulan yang agak menakutkan.

Jim Caviezel melakonkan watak Yesus dalam filem "The Passion of the Christ"

Ternyata cabaran yang saya rasakan dalam proses pembuatan film ini jauh lebih sulit daripada yang saya bayangkan sebelumnya. Disolek selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi penggambaran yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh terseksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang saya kenakan sangat tidak nyaman, menimbulkan gatal-gatal sepanjang hari penggambaran. Ini semua membuat saya sangat tertekan.

Lalu salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus waktu itu. Ketika mereka meletakkan salib itu di pundak saya, saya terkejut dan berteriak kesakitan. Mereka mengira itu lakonan yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa mampu memikulnya. Namun saya mencubanya dengan sekuat tenaga, sehingga bahu saya tercabut, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Sayapun melolong kesakitan, meminta pertolongan. Para kru mengira itu lakonan yg luar biasa, mereka tidak tahu bahawa saya sedang mengalami kecelakaan yang sebenarnya.


Dalam proses pemulihan dan penyembuhan, Mel Gibson mendatangi saya dan bertanya, “Apakah kamu ingin melanjutkan filem ini? Saya dapat memahami kalau kamu menolak untuk melanjutkannya.” Saya terperanjat dan berkata pada Mel, “Saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan menyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mahu memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebahagian kecil saja.” Lalu saya lanjutkan, “Ok, Mel, mari kita teruskan filem ini." Mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi. Lalu mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat di dalam filem itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.


Penggambaran selanjutnya adalah bahagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton, apalagi bagi saya yang melakonkannya, yaitu penggambaran penyambukan Yesus. Saya gementar menghadapi adegan itu, kecut melihat cambuk yang digunakan itu adalah cambuk yang sebenar. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm. Suatu waktu para pelakon perajurit Rum itu mencambuk dan mengenai bahagian sisi tubuh saya yang tidak terlindung oleh papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan di tanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru terperanjat dan segera mengerumuni saya untuk memberi pertolongan.

Tapi bahagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat iaitu pada bahagian penyaliban. Lokasi penggambaran di Itali sangat dingin, sedingin musim salji. Para kru dan pelakon  harus memakai pakaian yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung di atas kayu salib, di atas bukit yg tertinggi di situ. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau merejam tubuh saya. Saya terkena "hypothermia" (penyakit kedinginan) yang boleh menyebabkan kematian. Seluruh tubuh saya lumpuh dan tak dapat bergerak, mulut saya gementar, bergoncang tak terkendalikan. 


Mereka harus menghentikan penggambaran, karena nyawa saya jadi taruhannya. Semua tekanan, cabaran, kecelakaan dan penyakit mengakibatkan saya sangat tertekan. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan ke adegan lain, semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya. Ketika saya kelihatan sudah tidak mampu lagi, barulah mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fizikal dan jiwa saya sebagai manusia biasa.

Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat penggambaran untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan jika saya tidak mampu lagi, memohon kepada-Nya agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak dapat, masih tidak dapat membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekadar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yg panjang dan sangat menyakitkan, bagi fizikal maupun jiwa-Nya.


Dan peristiwa terakhir yang merupakan mukjizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada di atas kayu salib. Saat itu tempat penggambaran mendung gelap kerana badai mendatang, kilat sabung menyambung di atas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, kerana memang cuaca saat itu sedang ideal, sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan dalam Kitab Injil. Saya ketakutan tergantung di atas kayu salib itu, di samping kami ada bukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi dan jadi sasaran untuk dihentam oleh halilintar. Baru saja saya berfikir ingin segera turun kerana takut pada petir, suatu kesakitan yang luar biasa menghentam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang (rupanya iblis tidak senang dengan adanya pembuatan filem seperti ini).

Dan sayapun tidak sedarkan diri. Yang saya tahu kemudian ramai orang yg memanggil-manggil dan meneriakkan nama saya. Ketika saya membuka mata semua kru telah berkumpul di sekeliling saya, sambil berteriak-teriak “Dia sedar! Dia sedar!” Saya bertanya, “Apa yang telah terjadi?” Mereka bercerita bahwa kilat telah menghentam saya di atas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam kerana hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah keajaiban kalau saya selamat dari peristiwa itu. Dalam keadaan seperti ini mustahil bagi manusia untuk dapat selamat dari hentaman petir yang bertegangan elektrik berjuta-juta Volt! Tapi mukjizat Tuhan terjadi di sini. DIA berkenan melindungi saya, dan berkehendak agar proses pembuatan filem itu boleh berlanjut sampai selesai!


Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, “Tuhan, apakah Engkau menginginkan filem ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi, apakah Engkau menginginkan filem ini untuk dihentikan?" Namun saya terus berjalan maju. Kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat pada-Nya, supaya iman kita tetap kuat dalam menghadapi ujian.

Ketika orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat di tempat penggambaran itu melakonkan watak Yesus, saya hanya dapat menjawab, “Oh… itu sangat luar biasa.., sungguh mengagumkan…,” tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama penggambaran filem itu ada suatu hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada di situ, menjadi Pengarah dan menguasai diri saya untuk melakonkan diri-Nya sendiri.


Itu adalah pengalaman yang sangat mencengangkan, sulit untuk mengatakannya. Semua yang ikut terlibat dalam proses pembuatan filem itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pelakon salah satu perajurit Rum yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim. Setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya kerana panggilan profesional dan pekerjaan saja, hanya demi wang. Namun pengalaman dalam filem itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan. Dan Tuhan itu sungguh baik, walaupun memang filem itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya akan terhenti ternyata tidak benar. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilih-milih dan membatasi tawaran lakonan sejak saya memerankan film ini.

Sejak banyak bergumul dan berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Filem itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup Anda.

Firman Tuhan dalam Efesus 5:1-2 menyatakan: “Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.”

(Dialihbahasakan dari artikel Facebook Yesus Sahabat Sejati bertajuk, "Kesaksian Aktor Pemeran Yesus Kristus" bertarikh 25 September 2017)